Yuk Berbagi :)



 Bagaimana sih sistem kemasyarakatan dan kekerabatan suku Sasak ?
 
Berikut penjelasannya !
Dalam pergaulan antar individu dalam suatu masyarakat baik itu masyarakat sederhana sifatnya maupun yang sudah kompleks atau maju, masing-masing mempunyai kedudukan dan derajat. Di Lombok, secara umum terdapat tiga macam lapisan sosial masyarakat :
a.       Golongan Ningrat. Golongan ini dapat diketahui dari sebutan kebangsawanannya. Sebutan keningratan ini merupakan nama depan yang digunakan bagi mereka yang termasuk golongan ini. Pemberian nama ningrat disesuaikan dengan jenis kelamin dan statusnya dalam perkawinan. Berdasarkan jenis kelamin “Lalu/Mamik” diberikan kepada laki-laki, untuk perempuan ningrat diberi sebutan “Lale/Mamik Lale”. Sedangkan berdasarkan statusnya dalam perkawinan, sebutan “Lalu” diberikan kepada laki-laki yang belum menikah dan sebutan “Mamik” untuk laki-laki yang sudah menikah. Untuk perempuan yang belum menikah sebutannya “Lale” dan “Mamik Lale” bagi yang sudah menikah.
b.      Golongan Pruangse. Kriteria khusus yang dimiliki oleh golongan ini ialah sebutan “Bape” untuk kaum laki-laki yang sudah menikah. Sedangkan pria dan wanita pruangse yang belum menikah tidak memiliki sebutan lain kecuali nama kecil mereka.
c.       Golongan Bulu Ketujur. Yang termasuk golongan ini adalah masyarakat biasa yang konon dahulu adalah “Hulubalang” sang raja yang pernah berkuasa di Lombok. Kriteria khusus dari golongan ini adalah sebutan “Amak” bagi kaum laki-laki yang sudah kawin dan bagi kaum perempuan yang telah menikah dijuluki “Inak”. Sebutan ini diberikan kepada golongan yang sudah kawin sejak ia memiliki anak.

Sementara itu, konsep kekerabatan suku Sasak terlihat cukup sederhana. Suku ini hanya memisahkan sistem kekerabatan mereka menjadi dua kelompok, yaitu keluarga batih (keluarga inti) dan keluarga luas.

a.    Kurenan atau Keluarga Kecil (Inti)
Konsep keluarga Batih dalam suku Sasak adalah terdiri dari bapak, seorang atau lebih ibu, dan beberapa anak. Keluarga modle ini sering disebut dengan istilah sekurenan. Namun, sebenarnya istilah ini bukan merujuk pada unsur-unsur keluarga tersebut, akan tetapi merujuk pada konsep kehidupan dan perekonomian. Artinya, meskipun dalam keluarga tersebut terdiri dari bapak, seorang atau lebih ibu, dan beberapa anak, namun jika di dalamnya ikut juga orang lain bermukim dan makan, misalnya nenek, paman, bibi, atau pembantu, maka mereka juga dianggap bagian dari keluarga yang harus dihidupi secara ekonomi.
Jika surenan sudah terbentuk, maka dalam interaksi kehidupan nyata, keluarga Sasak memiliki panggilan-panggilan tertentu terhadap anggota-anggota sekurenan tersebut, yaitu :
1.    Bapak akan dipanggil oleh anak-anaknya dengan panggilan amaq, sedangkan oleh isterinya dipanggil pun.
2.    Ibunya akan dipanggil oleh anak-anaknya dengan panggilan inaq dan oleh suaminya akan dipanggil pun nina.
3.    Anak yang paling besar (perangga) dipanggil tekakaq.
4.    Anak yang paling kecil dipanggil teradiq.

b.    Sorohan atau Keluarga Luas
Sorohan adalah istilah suku Sasak untuk menyebut keluarga luas mereka. Secara umun, istilah sorohan merujuk pada silsilah suami isteri yang mengarah pada kakek nenek mereka masing-masing dan saudara-saudara yang berasal dari kakek nenek tersebut.
Dalam sorahan dikenal sebutan-sebutan tertentu, seperti :
1.      Papuq baloq, yaitu sebutan untuk kerabat suami isteri garis ke atas (kakek nenek hingga yang paling tua)
2.      Semeton jari, yaitu sebutan untuk kerabat suami isteri garis ke samping.
3.      papuq bai, yaitu sebutan untuk kerabat suami isteri garis ke bawah.
4.      Saudara perempuan bapak dan ibu disebut dengan inaq kaka (dibaca inaq kake).
5.      Saudara laki-laki bapak dan ibu disebut dengan Amaq Kaka (dibaca Amaq kake).

Semoga bermanfaat :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tabur kebaikan