Komunikasi dalam organisasi
MAKALAH
KOMUNIKASI DI DALAM ORGANISASI

JURUSAN
PERBANKAN SYARIAH
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MATARAM
MATARAM
2018
DAFTAR ISI
HALAMAN
JUDUL..........................................................................................................
KATA
PENGANTAR........................................................................................................
DAFTAR
ISI......................................................................................................................
BAB
I : PENDAHULUAN ...............................................................................................
A. Latar
Belakang................................................................................. .................
B.
Rumusan Masalah..............................................................................................
C.
Tujuan................................................................................................................
BAB
II : PEMBAHASAN.................................................................................................
A.
Pengertian Komunikasi......................................................................................
B.
Proses Komunikasi............................................................................................
C.
Hambatan-Hambatan dalam Organisasi............................................................
BAB
III : Penutup...............................................................................................................
a.
Kesimpulan........................................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA.........................................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manajemen
sering mempunyai masalah tidak efektifnya komunikasi. Padahal komunikasi yang
efektif adalah penting bagi para manajer, paling tidak dua alasan. Pertama,
komunikasi adalah proses melalui mana fungsi-fungsi manajemen perencanaan,
pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan dapat dicapai. Kedua, komunikasi
adalah kegiatan untuk mana para manajer mencurahkan sebagian besar proporsi
waktu mereka.
Proses
komunikasi memungkinkan manajer untuk melaksanakan tugas-tugas mereka.
Informasi harus dikomunikasikan kepada para manajer agar mereka mempunyai dasar
perencanaan, rencana-rencana harus dikomunikasikan kepada pihak lain agar
dilaksanakan.
Pengorganisasian
memerlukan komunikasi dengan bawahan tentang penugasan jabatan mereka.
Pengarahan mengharuskan manajer untuk berkomunikasi dengan bawahannya agar
tujuan kelompok dapat dicapai. Komunikasi tertulis dan lisan adalah bagian
esensi pengawasan. Jadi, manajer dapat melaksanakan fungsi-fungsi manajemen
mereka hanya melalui interaksi dan komunikasi dengan pihak lain.
Di
samping itu, bagian terbesar dari waktu manajerial dicurahkan untuk kegiatan
komunikasi. Jarang manajer yang bekerja di belakang meja sendiri. dalam
kenyataannya, waktu manajerial dihabiskan untuk komunikasi tatap muka atau
melalui telepon dengan bawahan, rekan sejawat, penyelia, penyedia atau
langganan.
Manajer
juga banyak melakukan penulisan atau pembuatan memo, surat dan laporan-laporan
atau barangkali membaca memo, surat dan laporan yang dikirim kepadanya. Bahkan
selama manajer bekerja sendiri, mereka sering dihentikan oleh komunikasi.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
itu komunikasi ?
2. Bagaimana
proses komunikasi dalam organisasi ?
3. Apa
saja hambatan-hambatan komunikasi dalam organisasi ?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui definisi dari komunikasi.
2. Untuk
mengetahui apa saja proses komunikasi di dalam organisasi.
3. Untuk
mengetahui apa saja hambatan komunikasi di dalam organisasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Komunikasi
Komunikasi
adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan atau informasi dari
seseorang ke orang lain. Perpindahan pengertian tersebut melibatkan lebih dari
sekedar kata-kata yang digunakan dalam percakapan, tetapi juga ekspresi wajah,
intonasi, titik putus vokal dan sebagainya. Dan perpindahan yang efektif
memerlukan tidak hanya transmisi data, tetapi bahwa seseorang mengirimkan
berita dan menerimanya sangat tergantung pada keterampilan-keterampilan
tertentu (membaca, menulis, mendengar, berbicara dan lain-lain) untuk membuat
sukses pertukaran informasi.
Komunikasi
sebagai suatu proses dengan mana orang-orang bermaksud memberikan
pengertian-pengertian melalui pengiringan berita secara simbolis, dapat
menghubungkan para anggota berbagai satuan organisasi yang berbeda dan bidang
yang berbeda pula, sehingga sering disebut rantai pertukaran informasi. Konsep
ini mempunyai unsur-unsur :
1. Suatu
kegiatan untuk membuat seseorang mengerti.
2. Suatu
sarana pengaliran informasi.
3. Suatu
sistem bagi terjalinnya komunikasi diantara individu-individu.
Pandangan
tradisional tentang komunikasi telah banyak diubah, oleh perkembangan
tekhnologi yaitu bahwa komunikasi tidak hanya terjadi antara dua atau lebih
individu, tetapi mencakup juga komunikasi antara orang-orang dan mesin-mesin,
dan bahkan antara mesin dengan mesin lainnya.
B. Proses
Komunikasi
Berikut
ini model kumunikasi dasar agar dapat dipahami mengapa komunikasi sering gagal
dan kegiatan-kegiatan yang perlu diambil manajer untuk meningkatkan efektifitas
komunikasi. Adapun model-model komunikasi adalah sebagai berikut.
Model
komunikasi antar pribadi.
Model proses komunikasi
yang paling sederhana adalah sebagai berikut.
Pengirim →
Berita → Penerima
Model ini menunjukkan
tiga unsur esensi komunikasi. Bila salah satu unsur hilang, komunikasi tidak
dapat berlangsung. Sebagai contoh, seseorang dapat mengirimkan berita tetapi
bila tidak ada yang menerima atau mendengar, komunikasi tidak terjadi.
Meskipun modelnya
sederhana, proses komunikasi adalah kompleks. Sebagai satu gambaran kompleksnya
proses komunikasi adalah “Telepon”, dimana pengirim menyampaikan suatu berita
tetapi penerima mungkin mendengar atau menerima berita bukan yang dimaksudkan
pengirim.
Berikut ini merupakan
langkah-langkah dalam proses komunikasi yaitu :
1. Sumber
(source) berita memainkan langkah pertama dalam proses komunikasi. Sumber
mengendalikan macam berita yang dikirim, susunan yang digunakan, dan sharing
saluran melalui berita yang dikirimkan. Dalam organisasi, sumber merupakan
pihak yang mempunyai kebutuhan dan keinginan untuk mengkomunikasikan suatu
gagasan, pemikiran, informasi, dan sebagainya kepada pihak lain.
2. Pengubahan
berita ke dalam sandi / kode (enconding). Langkah kedua ini enconding the massage mengubah berita ke
dalam berbagai bentuk simbol-simbol verbal atau non verbal yang mampu
memindahkan pengertian, seperti kata-kata percakapan atau tulisan, angka,
gerakan, ataupun kegiatan.
Dari beberapa simbol
yang tersedia, pengirim berita menyeleksi salah satu yang akan dapat memenuhi
kebutuhan khusus. Pengirim berita seharusnya tidak hanya memikirkan apa yang
akan dikatakan tetapi juga bagaimana hal itu akan disajikan agar pengaruh yang
diinginkan dari penerima terpenuhi. Jadi, berita harus disesuaikan dengan
tingkat pemahaman, kepentingan dan kebutuhan penerima untuk mencapai
konsekuensi-konsekuensi yang diinginkan. Simbol-simbol harus diseleksi atas
dasar pemahaman yang akan diperoleh dari pendengar atau pembaca. Kesamaan pengertian
ini penting, karena ketidaksamaan pengertian akan menimbulkan salah komunikasi.
3. Pengiriman
berita (transmiting the massage).
Langkah ketiga mencerminkan pilihan komunikator terhadap media atau saluran
distribusi. Komunikasi lisan mungkin disampaikan melalui berbagai saluran
telepon, mesin pendekte, orang atau videotape. Hal ini mungkin dilakukan secara
pribadi atau dalam pertemuan kelompok dengan banyak orang. Dalam kenyataannya,
salah satu keputusan penting yang harus dibuat pengirim adalah dalam penentuan
saluran yang tepat atau sesuai bagi pengiriman berita tertentu.
Manfaat komunikasi
lisan, orang per-orang, adalah kesepakatan untuk berinteraksi antara sumber dan
penerima, memungkinkan komunikasi non-verbal (gerakan tubuh, intonasi suara,
dan lain-lain), disampaikannya berita secara cepat, dan memungkinkan umpan
balik diperoleh segera.
Sedangkan komunikasi
tertulis dapat disampaikan melalui saluran-saluran seperti memo, surat,
laporan, catatan, bulletin dewan direktur, manual perusahaan, dan surat kabar.
Komunikasi tulisan mempunyai manfaat dalam hal penyediaan laporan atau dokumen
untuk kepentingan di waktu mendatang.
4. Penerimaan
berita. Langkah keempat adalah penerimaan berita oleh pihak penerima. Pada
dasarnya, orang menerima berita melalui kelima panca indra mereka. Pengiriman
berita belum lengkap atau tidak terjadi bila suatu pihak belum menerima berita.
Banyak komunikasi penting gagal karena seseorang tidak pernah menerima berita.
5. Pengartian
atau penterjemahan kembali berita (decoding). Langkah kelima proses komunikasi
adalah decoding. Hal ini menyangkut pengartian simbol-simbol oleh penerima.
Proses ini dipengaruhi oleh latar belakang, kebudayaan, pendidikan, lingkungan,
praduga dan gangguan di sekitarnya. Selalu ada kemungkinan bahwa berita dari
sumber ketika diartikan oleh penerima, akan menghasilkan pengertian yang jauh
berbeda dengan yang dimaksud oleh pengirim. Jadi, penerima mempunyai tanggung
jawab besar untuk efektifitas komunikasi, dalam hal komunikasi dua arah,
manajer dan bawahan dapat berperan baik sebagai sumber maupun penerima dalam
suatu interaksi. Berbagai macam interaksi dapat dilakukan dengan ruang lingkup,
tingkat kepentingan dan periode waktu yang berbeda-beda.
6. Umpan
Balik (feedback). Setelah berita diterjemahkan, penerima mungkin menyampaikan
berita balasan yang ditujukan kepada pengirim mula-mula atau orang lain. Jadi,
komunikasi adalah proses yang berkesinambungan dan tak pernah berakhir.
Seseorang berkomunikasi, penerima menanggapinya melalui komunikasi selanjutnya
dengan pengirim atau orang lain, dan seterusnya. Tanggapan ini disebut umpan
balik.
· Komunikasi Organisasi
Semua
faktor yang dibahas dalam model proses komunikasi di atas, dapat juga
diterapkan pada komunikasi dalam organisasi. Komunikasi efektif dimana saja, menyangkut
penyampaian berita dari seseorang kepada orang lain secara akurat. Hanya
bedanya efektifitas komunikasi dalam organisasi dipengaruhi oleh beberapa
faktor khusus. Raymond V Lesikar telah menguraikan empat faktor yang
mempengaruhi efektifitas komunikasi organisasi yaitu :
1. Saluran
Komunikasi Formal
Saluran
komunikasi formal ini mempengaruhi efektifitas komunikasi dalam dua cara
a. Liputan
saluran formal semakin melebar sesuai perkembangan dan pertumbuhan organisasi.
Sebagai contoh, komunikasi efektif biasanya semakin sulit dicapai dalam
organisasi yang besar dengan cabang-cabang yang menyebar.
b. Saluran
komunikasi formal dapat menghambat aliran informasi antar tingkat-tingkat
organisasi. Sebagai contoh, karyawan lini perakitan hampir selalu akan
mengkomunikasikan masalah-masalah pada penyelia (mandor) mereka dan bukan pada
manajer pabrik. Keterbatasan ini mempunyai kebaikan (seperti menghindarkan
manajer atas dari kebanjiran informasi), tetapi juga mempunyai kelemahan
(seperti menghindarkan manajer atas dari informasi yang seharusnya mereka
peroleh).
2. Struktur
Wewenang Organisasi
Struktur wewenang
organisasi mempunyai pengaruh yang sama terhadap efektifitas organisasi.
Perbedaan kekuasaan dan kedudukan (status) dalam organisasi akan menentukan
pihak-pihak yang berkomunikasi dengan seseorang serta isi dan ketepatan
komunikasi. Sebagai contoh, percakapan antara direktur perusahaan dengan karyawan
akan dibatasi formalitas dan kesopanan, sehingga tidak ada pihak yang
berkehendak untuk mengatakan sesuatu yang penting.
3.
Spesialisasi jabatan
Biasanya akan
mempermudah komunikasi dalam kelompok-kelompok yang berbeda. Para anggota suatu
kelompok kerja yang sama akan cenderung berkomunikasi dengan istilah, tujuan,
tugas, waktu, dan gaya yang sama. Komunikasi antara kelompok-kelompok yang
sangat berbeda akan cenderung dihambat.
4.
Pemilikan informasi
Berarti bahwa
individu-individu mempunyai informasi khusus dan pengetahuan tentang
pekerjaan-pekerjaan mereka. Sebagai contoh, manajer produk akan mempunyai
pengamatan yang lebih tajam dalam perumusan strategi-strategi pemasaran, kepala
departemen mungkin mempunyai cara tertentu yang efektif untuk menangani konflik
diantara para bawahannya. Individu-individu yang memiliki informasi-informasi
khusus ini dapat berfungsi lebih efektif dari pada lainnya, dan banyak diantara
mereka yang tidak bersedia membagikan informasi tersebut kepada yang lain.
Adapun tipe saluran-saluran
dasar komunikasi adalah sebagai berikut.
1. Komunikasi
Vertikal
Komunikasi
vertikal terdiri atas komunikasi ke atas dan ke bawah sesuai rantai perintah.
Komunikasi ke bawah (downward communication) dimulai dari manajemen puncak
kemudian mengalir ke bawah melalui tingkatan-tingkatan manajemen sampai ke
karyawan lini dan personalia paling bawah. Maksud utama komunikasi ke bawah
adalah untuk memberi pengarahan, informasi, instruksi, nasihat atau saran dan
penilaian kepada bawahan serta memberikan informasi kepada para anggota
organisasi tentang tujuan dan kebijaksanaan organisasi.
Sedangkan
fungsi utama komunikasi ke atas (upward communication) adalah untuk mensuplai
informasi kepada tingkatan manajemen atas tentang apa yang terjadi pada
tingkatan bawah. Tipe komunikasi ini mencakup laporan-laporan periodik,
penjelasan, gagasan, dan permintaan untuk diberikan keputusan. Hal ini dapat
dipandang sebagai data atau informasi umpan balik bagi manajemen atas.
2. Komunikasi
Lateral atau Horizontal
Komunikasi
lateral atau horizontal meliputi hal-hal berikut ini :
1. Komunikasi
diantara para anggota dalam kelompok kerja yang sama.
2. Komunikasi
yang terjadi antara dan diantara departemen-departemen pada tingkatan
organisasi yang sama.
Bentuk
komunikasi ini pada dasarnya bersifat koordinatif, dan merupakan hasil dari
konsep spesialisasi organisasi. Sehingga komunikasi ini dirancang guna
mempermudah koordinasi dan penanganan masalah. Komunikasi lateral, selain
membantu koordinasi kegiatan-kegiatan lateral, juga menghindarkan prosedur
pemecahan masalah yang lambat.
3. Komunikasi
Diagonal
Komunikasi
diagonal merupakan komunikasi yang memotong secara menyilang diagonal rantai
perintah organisasi. Hal ini sering terjadi sebagai hasil hubungan-hubungan
departemen lini dan staf.
3. Hambatan-Hambatan Terhadap
Komunikasi Efektif
Komunikasi
sering tidak efektif dengan adanya kekuatan-kekuatan dari luar yang
menghambatnya. Berikut ini akan dibahas hambatan-hambatan terhadap komunikasi
yang efektif tersebut dengan dikelompokkan sebagai berikut.
1. Hambatan-Hambatan
Organisasional
Ada tiga hambatan organisasional
yaitu :
1. Tingkatan Hirarki. Bila suatu organisasi
tumbuh, strukturnya berkembang, akan menimbulkan berbagai masalah komunikasi.
Karna berita harus melalui tingkatan (jenjang) tambah, yang memerlukan waktu
yang lebih lama untuk mencapai tempat tujuan dan cenderung berkurang
ketepatannya berita yang mengalir ke atas atau ke bawah tingkatan-tingkatan
organisasi akan melalui beberapa filter dengan persepsi, motif, kebutuhan, dan
hubungan sendiri.
|
|
|
Direktur
Direktur
Wakil direktur Wakil direktur
Manajer devisi Manajer devisi
Manajer Pabrik Manajer Pabrik
Penyelia Penyelia
|
2. Wewenang manajerial. Tanpa wewenang untuk
membuat keputusan tidak mungkin manajer dapat mencapai tujuan dengan efektif.
Tetapi dilain pihak, pada kenyataannya bahwa seseorang yang mengendalikan orang
lain juga menimbulkan hambatan-hambatan terhadap komunikasi,banyak atasan bahwa
mereka tidak dapat sepenuhnya menerimaberbagai masalah, kondisi, atau hasil
yang dapat membuat mereka tanpa lemah. Sebaliknya, banyak bawahan menghindari situasi
dimana mereka harus mengungkapkan informasi yang dapat membuat mereka dalam
kedudukan yang tidak baik.
3. Spesialisasi. Meskipun spesialis adalah
prinsip dasar organisasi, tetapi juga menciptakan masalah-masalah komunikasi,
dimana hal ini cenderung memisahkan orang-orang, bahkan bila mereka bekerja
saling berdekatan. Perbedaan fungi, kepentingan dan istilah-istilah pekerjaan
dapat membuat orang-orang merasa bahwa mereka hidup dalam dunia yang
berbeda-beda.
2.
Hambatan-hambatan antar pribadi
Manajer perlu memperhatikan hambatan-hambatan
antar pribadi seperti:
1. Persepsi selektif. Persepsi adalah suatu
proses yang menyeluruh dengan mana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan, dan
mengartikan segala sesuatu dilingkungan.dalam hal ini pengelaman mengajarkan
seseorang dengan reaksi tertentu. Manajer perlu memperhatikan tiga aspek
berikut sehubungan dengan persepsi selektif yaitu:
a. Penerima akan mengiterprestasikan berita
berdasarkan pengalaman diri dan bagaimana mereka telah belajar untuk menanggapi
sesuatu.
b. Penerima akan menginterprestasikan berita
dengan cara menolak suatu perubahan dalam struktur kepribadian yang kuat.
Berita yang bertentangan dengan keyakinan seseorag cenderung untuk ditolak.
c. Penerima akan cenderung mengelompokan dan
menyimpan karakteristik-karakteristik pengalaman mereka sehingga mereka dapat
membuat pola-pola menyeluruh.
2. Status komunikator.
Hambatan utama untuk komunitator lainnya adalah kecenderungan untuk
menilai, mempertimbangkan dan membentuk pendapat atas dasar
karakteristik-karakteristik pengirim (sumber) terutama kredebilitasannya.
Kredibilitas didasarkan didasarkan keahlian seseorang dalam bidang yang sedang
dikomunikasikan dan tingkat kepercayaa seseorang bahwa orang tersebut akan aka
mengkomunikasikan kebenaran.
Manajer harus dipandang bawahan mereka sebagai orang yang terpercaya.
Kalau tidak, usaha untuk memotivasi, mempengaruhi dan mengarahkan
kegiatan-kegiatan bawahan akan sangat terhambat dari permulaan.
3. Keadaan membela diri
Perasaan pembelaan diri pada pengirim, penerima berita atau keduanya
juga menimbulkan habatan-hambatan komunikasi. Keadaan membela diri seseorang
mengakibatkan ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan pembicaraan tertentu, dan
sebaliknya meningkatkan tingkat pembelaan dipihak lain. Jadi, akan timbul
reaksi rantai defensif. Keadaan ini membuat pendengar lebih berkonsentrasi pada
apayang dikatakan dan bukan pada apa yang sedang didengar. Sebagai contoh bila
seseorang karyawan terancam akan kehilangan kedudukannya maka dapat kehilangan
kemampuan untuk mengartikan berita secara tepat dengan memberi reaksi defersif
atau agresif.
Peningkatan Efektivitas Komunikasi
Berbagai penyebab timbulnya masalah-masalah komunikasi dan betapa
sulitnya mencapai komunikasi efektif
telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya. Berikut ini akan dijelaskan
berbagai cara para manajer dapat meningkatkan efektivitas komunikasi.
Tekhnik-tekhnik ini pada dasarnya adalah cara-cara untuk mengatasi
kesulitan-kesulitan yang disajikan sebelumnya.
1.
Kesadaran
akan kebutuhan komunikasi efektif
Karena berbagai hambatan organisasional dan antarpribadi, komunikasi
efektif tidak dapat dibiarkan terjadi begitu saja. Manajer harus memainkan
peranan penting dalam proses komunikasi, dimana hanya dengan cara itu kemudian
dapat diambil langkah-langkah untuk meningkatkan efektivitas komunikasi.
Pentingnya komunikasi menyebabkan banyak perusahaan besar menggunakan
para “ahli komunikasi”. Para spesialis komunikasi ini membantu perbaikan
komunikasi dengan bantuannya kepada para penyelia memecahkan masalah-masalah
komunikasi internal, penentuan strategi komunikasi perusahaan sehubungan dengan
“lay offs”, penutupan pabrik atau
relokasi dan terminasi serta pengukuran kualitas kegiatan-kegiatan komunikasi
melalui interview (wawancara) atau survei.
2.
Penggunaan
Umpan-Balik
Peralatan penting pengembangan komunikasi lainnya adalah penggunaan
umpan balik berita-berita yang dikirim. Komunikasi dua arah ini memungkinkan
proses komunikasi berjalan lebih efektif. Para manajer ini dapat melakukan
paling sedikit dua hal untuk mendorong umpan balik dan menggunakannya secara
efektif. Manajer dapat menciptakan lingkungan yang mendorong umpan balik dan
mendapatkan umpan balik melalui kegiatan mereka sendiri.
Cara manajer berkomunikasi dengan para bawahannya dapat menentukan
jumlah umpan balik yang akan mereka terima. Di samping itu, tipe komunikasi
yang digunakan dan lingkungan komunikasi penting dalam penentuan umpan balik
macam apa yang didapatkannya. Dalam hal ini manajer perlu memainkan peranan
aktif dalam pengadaan umpan balik tersebut.
Di lain
pihak, para manajer perlu secara
aktif mencari umpan balik. Manajemen
partisipatif dan komunikasi tatap muka merupakan cara-cara yang dapat digunakan
untuk meningkatkan efektivitas komunikasi melalui penggunaan umpan balik.
3.
Menjadi komunikator
yang lebih efektif.
Tekhnik-tekhnik komunikasi yang jelek mengganggu banyak manajer
seperti halnya mengganggu hubungan mereka dengan para bawahannya di luar
pekerjaan. Oleh karena itu, latihan-latihan dalam penulisan dan penyampaian
berita secara lisan perlu dilakukan untuk meningkatkan pemahaman akan
simbol-simbol, penggunaan bahasa, pengutaraan yang tepat dan kepekaan terhadap
latar belakang penerima berita.
Salah satu peralatan yang digunakan secara efektif oleh para psikolog,
pembimbing dan orang-orang yang profesinya memerlukan pemahaman yang mendalam
tentang klien mereka, yaitu Active
listening dapat dipergunakan untuk mengembangkan dimensi baru keterampilan
manajemen para manajer. Prinsip dasar peralatan ini adalah penggunaan reflective statements (pernyataan balik)
oleh pendengar. Bagaimanapun juga, posisi kunci para manajer dalam proses
komunikasi, membuat kebutuhan mendesak bagi pengembangan diri untuk menjadi
komunikator yang lebih efektif.
Pedoman Komunikasi yang Baik
American Manajement Associations (AMA) telah menyusun sejumlah
prinsip-prinsip komunikasi yang disebut “the
Ten Commandments of Good Communication” (sepuluh pedoman komunikasi yang
baik). Pedoman-pedoman ini disusun untuk meningkatkan efektivitas komunikasi
organisasi, yang secara ringkas adalah sebagai berikut.
1. Cari kejelasan gagasan-gagasan terlebih dahulu
sebelum dikomunikasikan.
2. Teliti tujuan sebenarnya setiap komunikasi.
3. Pertimbangkan keadaan fisik dan manusia
keseluruhan kapan saja komunikasi akan dilakukan.
4. Konsultasikan dengan pihak-pihak lain, bila
perlu dalam perencanaan komunikasi.
5. Perhatikan tekanan nada dan ekspresi lainnya
sesuai isi dasar berita selama berkomunikasi.
6. Ambil kesempatan bila timbul untuk mendapatkan
segala sesuatu yang membantu atau umpan balik.
7. Ikuti lebih lanjut komunikasi yang telah
dilakukan.
8. Perhatikan konsistensi komunikasi.
9. Tindakan atau perbuatan harus mendorong
komunikasi.
10. Jadilah pendengar yang baik, berkomunikasi
tidak hanya untuk dimengerti tetapi untuk mengerti.
Prinsip komunikasi AMA ini memberikan kepada para manajer pedoman
untuk meningkatkan efektivitas komunikasi.
Daftar
Pustaka
Handoko,
Hani, Manajemen, Cet. ke-29,
Yogyakarta: BPFE, 2017.
Komentar
Posting Komentar